Sabtu, 10 Mei 2014

softskill


Nama : Rizky Ramlan
Kelas  : 2IC01
Npm   : 26412624

2. Deskripsikan pahlawan nasional ?

Pahlawan Pattimura
                               
                                               


Profil
Kapitan Pattimura (lahir di Hualoy, Hualoy, Seram Selatan, Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun), memiliki nama asli Ahmad Lussy [1], di sejarah versi pemerintah ia dikenal dengan nama Thomas Matulessy atau Thomas Matulessia, adalah seorang bangsawan dan ulama yang kelak kemudian dikenal sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Nama dan Silsilah
Ahmad Lussy "Pattimura" atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Ia bangsawan dari kerajaan Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.
Ada versi sejarah yang menyebutkan bahwa ia adalah putra Frans Matulessia dengan Fransina Silahoi. Adapun dalam buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan".
Ada kejanggalan dalam keterangan di atas. Sapija tidak menyebut Sahulau itu adalah kesultanan. Kemudian ada penipuan dengan menambahkan marga Pattimura Mattulessy. Padahal di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura atau Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah Sultan Abdurrahman.
Jadi asal nama Pattimura dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sedangkan Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy. Dan nama Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku. Berbeda dengan Sapija, Mansyur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. [2]


Istilah Kapitan
Dari sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija, gelar kapitan adalah pemberian Belanda. Padahal tidak.
Menurut Sejarawan Mansyur Suryanegara, leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.
Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan "kapitan" yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.

Perjuangan
Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarier dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris.[4] Kata "Maluku" berasal dari bahasa Arab Al Mulk atau Al Malik yang berarti Tanah Raja-Raja.[5] mengingat pada masa itu banyaknya kerajaan
Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menetrapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten), serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam pratiknya pemindahn dinas militer ini dipaksakan [6] Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura [5] Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya. Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.
Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinir Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan. Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai “PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN” oleh pemerintah Republik Indonesia Pahlawan Nasional Indonesia.
Perlawanan rakyat di bawah komando Kapitan Pattimura itu terekam dalam tradisi lisan Maluku yang dikenal dengan petatah-petitih. Tradisi lisan ini justru lebih bisa dipertanggung jawabkan daripada data tertulis dari Belanda yang cenderung menyudutkan pahlawan Indonesia. Di antara petatah-petitih itu adalah sebagai berikut:
Yami Patasiwa
Yami Patalima
Yami Yama'a Kapitan Mat Lussy
Matulu lalau hato Sapambuine
Ma Parang kua Kompania
Yami yama'a Kapitan Mat Lussy
Isa Nusa messe
Hario,
Hario,
Manu rusi'a yare uleu uleu `o
Manu yasamma yare uleu-uleu `o
Talano utala yare uleu-uleu `o
Melano lette tuttua murine
Yami malawan sua mena miyo
Yami malawan sua muri neyo

Artinya
Kami Patasiwa
Kami Patalima
Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy
Semua turun ke kota Saparua
Berperang dengan Kompeni Belanda
Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lussy
Menjaga dan mempertahankan
Semua pulau-pulau ini
Tapi pemimpin sudah dibawa ditangkap
Mari pulang semua
Ke kampung halaman masing-masing
Burung-burung garuda (laskar-laskar Hualoy)
Sudah pulang-sudah pulang
Burung-burung talang (laskar-laskar sekutu pulau-pulau)
Sudah pulang-sudah pulang
Ke kampung halaman mereka
Di balik Nunusaku
Kami sudah perang dengan Belanda
Mengepung mereka dari depan
Mengepung mereka dari belakang
Kami sudah perang dengan Belanda
Memukul mereka dari depan
Memukul mereka dari belakang)

Kata-Kata
Ketika Ahmad Lussy "Pattimura" akan dihukum gantung oleh Belanda, ada sebuah kata-kata yang ia ungkapkan kemudian tercatat dalam sejarah. Nunu oli
Nunu seli
Nunu karipatu
Patue karinunu



(Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya (demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya).
Ucapan-ucapan puitis yang penuh tamsil itu diucapkan oleh Kapitan Ahmad Lussy atau dikenal dengan sebutan Pattimura, pahlawan dari Maluku. Saat itu, 16 Desember 1817, tali hukuman gantung telah terlilit di lehernya. Dari ucapan-ucapannya, tampak bahwa Ahmad Lussy seorang patriot yang berjiwa besar. Dia tidak takut ancaman maut. Wataknya teguh, memiliki kepribadian dan harga diri di hadapan musuh. Ahmad Lussy juga tampak optimis.

Catatan Saya tentang patimura :
Saya sangat bangga kepada pahlawan patimura atas semua perjuangan-perjuangan yang beliau lakukan untuk INDONESIA dan sangat berani mempertaruhkan nyawanya untuk INDONESIA.

http://sejarahkepahlawanan.blogspot.com/2010/09/pahlawan-pattimura.html


softskill


Nama : Rizky Ramlan
Kelas  : 2IC01
Npm   : 26412624

            1.   Kembalikan indonesiaku ke indonesia ?
                       
                                         Judul  : Menjaga keutuhan wilayah NKRI

              Dari segi persatuan, kita masih melihat adanya gangguan separatisme di daerah-daerah Indonesia. Ada pula kesenjangan antar daerah, antar golongan, serta antara pusat dan daerah. Bentrokan antar golongan masih terjadi, terutama dengan adanya kelompok-kelompok anarkis yang melakukan tindakan kekerasan dan teror terhadap masyarakat. Belum lagi peperangan antar geng dan antar golongan yang kembali merebak, yang mana ini semua akan memecah belah NKRI dari dalam negeri kita sendiri yaitu Indonesia, yang pasti sungguh sangat merugikan kita sebagai warga Negara Indonesia.
              Gangguan terhadap kedaulatan wilayah Negara kita masih terasa dan sering terjadi. Banyak pelanggaran yang dilakukan oleh negara asing terhadap wilayah perairan dan perbatasan. Seperti contoh berkurangnya luas wilayah nasional akibat berpindahnya tapal / patok batas wilayah kita di Kalimantan serta pelanggaran udara dan laut Republik Indonesia yang dilakukan oleh pesawat udara dan kapal perang terutama kapal selam asing yang bahkan tidak pernah kita ketahui adanya, ini adalah contoh kurangnya kemampuan dan kekuatan laut dan udara kita dalam mengendalikan dan menjaga kedaulatan Republik Indonesia, sebab mudahnya Negara lain melecehkan Negara kita dengan cara seperti itu.
              Dan bangsa Indonesia saat ini sudah tercabut dari akarnya. Wawasan kebangsaan yang bersumber dari landasan Pancasila tidak lagi menjadi falsafah kehidupan di Negara ini. Bahkan, kita sudah tidak lagi paham landasan kebangsaan kita, yaitu kekeluargaan, musyawarah, dan mufakat karena batang tubuh negara kita sudah disimpangkan dari Pembukaan UUD 45 yang merupakan sumber dari segala sumber hukum. Dari sini sudah terlihat bahwa bangsa Indonesia sudah tidak mengenal pancasila lagi, dan akan terjadinya perpecah belahan antara kita sesama warga Negara Indonesia jika ini terus terjadi.
              Intropeksi ini sesungguhnya bukanlah untuk menyanggah segala keberhasilan, tetapi lebih sebagai upaya untuk menyadarkan kita semua bahwa masih sangat banyak kekurangan yang perlu kita perbaiki. Mengembalikan keindonesiaan kita dengan memperbaiki pola pikir, pola sikap, dan pola tindak. Indonesia harus kita kembalikan kepada haluannya yang benar, sesuai cita-cita pembentukannya, yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Mari kita kobarkan kembali rasa cinta tanah air untuk Indonesia, rela berkorban, rasa senasib sepenanggungan, semangat persatuan dan kesatuan, dan menjadikan kemajemukan kita sebagai kekuatan. Bhinneka Tunggal Ika dan Merah Putih harus kembali kita junjung tinggi dan kita kibarkan. Dengan kata lain, mari kita kembalikan Indonesia sebagai kesatuan NKRI. Dirgahayu Republik Indonesia ke-68, hiduplah Indonesia raya.

Jumat, 11 April 2014

softskill


Nama : Rizky Ramlan
Kelas  : 2IC01
Npm   : 26412624

1.   Tuliskan dan tafsirkan 1 lagu pop Indonesia yang menuliskan tentang Indonesia ?
Jawab :
Judul : Kolam Susu
Artis : Koes Plus

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Tafsiran / makna lagu tersebut :
                   Lagu diatas menceritakan atau menggambarkan betapa istimewa dan ajaibnya Negara kita ini (Indonesia). Negara yang dipuja karena kaya raya, melimpah berkah dari sang pencipta. Kolam susu, bercerita tentang keindahan dan kemakmuran yang sangat luar biasa. Yang memiliki tanah yang subur, pemandangan alam yang indah, sumberdaya alam yang melimpah ruah, lautan yang amat luas yang kaya akan sumberdaya laut, iklim cuaca yang ramah.
                    Kail dan jala cukup menghidupimu, makna dari lirik ini adalah saking Indonesia mempunyai kekayaan laut yang melimpah mempunyai berbagai macam jenis ikan dilautan atau sungai yang jumlahnya sangat banyak dan ekosistem laut yang terjaga. Sehingga sangat mudah untuk masyarakat mendapatkan ikan yang umumnya digunakan untuk di konsumsi dan juga dijual untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Kemudian, Tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampirimu., maksudya adalah saking banyak dan jinaknya ikan dan uadang pun akan bersedia menghampiri manusia tanpa diundang dan ditangkap.
                  Tanah surga adalah tanah yang subur. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, maknanya adalah menggambarkan tentang tanah Indonesia yang sangat subur dan sangat mudah ditanami berbagai macam jenis-jenis tumbuhan, sampai-sampai tongkat dan kayu pun tumbuh menjadi tanaman untuk menghidupi manusia.

2.   Seandainya anda menjadi caleg apa yang akan anda rencanakan / programkan ?
     Jawab :
     Jika saya menjadi calon legislatif (caleg) tentu saya mempunyai program-program seperti berikut yang berguna untuk memajukan Indonesia yang lebih baik lagi dan memprioritaskan kebutuhan untuk kepentingan bersama, beberapa contoh yang akan saya berikan jika saya terpilih nanti adalah :
·               Membebaskan biaya pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.
·               Wajib belajar 9 tahun bagi anak kurang mampu.
·               Membuka lapangan pekerjaan yang baik.
·               Menjadikan kota yang lebih tertib dan taat peraturan.
·               Memberikan program kesehatan gratis untuk warga kurang mampu.
·               Memberikan santunan kepada anak yatim piatu.
·               Menindak tegas pelaku korupsi.
·               Memberikan fasilitas pelayanan publik yang baik.
·               Memperbaiki jalan-jalan yang sudah rusak / tidak layak.
Jika benar-benar terpilih nanti tentu saja program-program yang saya tuliskan tersebut pasti akan saya penuhi, karena ini merupakan kewajiban bagi seorang pemimpin yang baik dan ini juga merupakan amanah dari warga yang harus saya jalankan dengan baik, tentu saya akan sangat berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang sudah mempercayai saya untuk menjadi anggota legislatif.

3.   Tuliskan  tanggapan dan cari jalan keluar tentang lokalisasi ?
Jawab :
·         Tanggapan :
              Tempat lokalisasi adalah tempat yang sangat hina menurut saya, banyak  perbuatan kemaksiatan di dalamnya,   banyak pekerja seks komersial yang melayani lelaki hidung belang. Tentu ini sangat merugikan banyak pihak, maka ini semua harus diberikan tindakan yang tegas, jika tidak benar-benar diberikan tindakan yang tegas tempat ini akan semakin banyak karena saat ini banyak pengangguran merajalela dan permasalahan ekonomi penyebab utamanya. Sebenarnya mudah saja untuk menghapus tempat lokalisasi seperti ini, yaitu dengan cara menindak tegas para pebisnis yang membangun tempat lokalisasi dan juga menindak psk nya, yang mana terlebih dahulu mencari kesepakatan agar pebisnis tidak membangun tempat itu lagi dan si psk tidak melakukan pekerjaan itu lagi.
·         Jalan Keluar :
              Memberikan pekerjaan yang layak untuk para bekas psk, memberikan sebagaimana pekerjaan tersebut bias cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, supaya pihak tersebut tidak mengeluh terhadap perubahan gaya hidup nya yang sebelumnya menjadi psk. Memberikan pembinaan yang baik terhadap bekas psk tersebut dengan pencerahan hati dan pikiran untuk tidak menggeluti pekerjaannya sebagai psk, bahwa pekerjaan itu sangat hina dan merupakan dosa besar, dan psk tersebut akan sadar atas apa yang mereka kerjakan tersebut sangat tidak baik. Dan yang terpenting pemerintah dapat memenuhi janji-janji yang telah disepakati untuk memberikan pekerjaan yang layak.